HIDUPKU
Namaku Smith. Aku seorang montir di bengkel kecil milik temanku di desa kecil bernama Silent Hill. Aku tinggal sendirian di desa itu dan tertarik kepada seorang wanita bernama Dolores, meskipun dia janda beranak dua, dia tetap memikat hatiku.
Hidupku sangat sederhana layaknya hidup orang biasa lain, yang aku lakukan hanya
bekerja, makan, mandi, mencuci piring dan memperhatikannya tentunya. Hidupku yang biasa ini mulai berubah ketika suatu hari, disaat aku sedang duduk santai di depan rumah sambil meminum sebotol bir, aku melihat seberkas cahaya putih dari langit yang gelap.
Seberkas cahaya itu bergerak bagaikan membelah langit malam yang gelap, tak lama kemudian, cahaya itu menghilang ditelan kejauhan. Aku pikir telah melihat ufo atau rudal percobaan tentara AS. Tapi pastinya aku tak tahu. Akupun melanjutkan untuk tidur karena takut akan terjadi apa-apa denganku.
Esok harinya seperti biasa aku pergi bekerja di bengkel temanku yang bernama Henry. Henry adalah orang yang sangat baik kepadaku, dia memberiku sebuah truk BMW warna merah yang sangat aku sukai tentunya. Seperti biasa banyak penduduk desa yang memeriksakan kesehatan kendaraan truk mereka dibengkel ini dan seperti biasa akupun mengerjakannya.
Seperti biasanya, Dolores, wanita yang memikat hatiku tentunya berbelanja kebutuhan hidupnya sehari-hari di mini market depan bengkelku bekerja ini. Mungkin dia terlalu risih kepadaku sehingga dia selalu menghindar bila aku terus melihatnya. Ya, itulah wanitaku.
Sudah jam 12 aku pergi ke bar untuk bertemu teman-temanku. Di sana aku menceritakan semua yang aku lihat tadi malam di langit malam, tetapi mereka tak melihat apapun dan tak percaya kepadaku. Dengan hati yang agak kecewa aku pulang kerumah.
Di rumah sudah ada Buddy, anjing yang menemaniku selama ini. Dia sangat suka mendengarkanku membacakan sebuah buku dongeng untuknya, dia selalu duduk didekat perapian di saat udara dingin menjelang bersamaku, hanya dia yang mungkin menjadi tempatku bercerita.
Malam itu pukul 8, seperti biasanya aku membacakan buku untuknya. Lembar demi lembar aku baca buku itu, kemudian di saat aku ingin membuka halaman yang lain, aku bisa membukanya tanpa aku menyentuhnya. Karena ketakutan, Buddy menggonggong kepadaku dan aku jelaskan bahwa mungkin ini hanya listrik statis biasa. Tanpa berpikir panjang aku pergi tidur.
Esok harinya, seperti biasa kembali aku pergi bekerja di bengkel. Saat aku sedang membetulkan sebuah truk, saat aku ingin mengambil obeng, mulai ada keanehan yang aku alami. Aku bisa mengambil obeng tanpa aku menyentuhnya.
Setelah itu aku pergi ke seorang dokter umum untuk memeriksakan apakah aku mendapat sebuah penyakit atau tidak. sekitar setengah jam aku diperiksa oleh dokter dan dokter berkata bahwa dia tak menemukan apapun yang salah dalam tubuhku.
Malam harinya seperti biasa aku duduk bersantai di depan rumah dengan meminum sebotol bir, tetapi malam itu, aku berasa aku punya gairah untuk membaca. Ya. Membaca apapun yang aku punya dirumah. Setelah kehabisan buku bacaan, aku mulai menelepon teman baikku dan meminjam buku darinya. Dia bernama Louis, dia adalah peretas paling hebat di desaku.
Malam itu, aku tak bisa tidur dan terus membaca buku. Aku melakukan eksperimen dengan sebuah panel surya yang diberi oleh Louis kepadaku. Aku menggunakannya untuk membantu tumbuhan berfotosintetis. Ya akupun juga meracik pupuk kompos yang aku dapat menumbuhkan tomat hingga sebesar kepala dan mentimun sebesar paha orang dewasa.
Pernah aku pergi kerumah Dolores untuk mendapatkan perhatiannya dengan membawa sebuah tomat sebesar kepala. mereka terkejut saat mendapatiku membawa itu. Setelah itu Dolores mengajakku mengobrol diluar berdua, membicarakan apa yang terjadi kepadaku akhir-akhir ini dan akupun ceritakan semuanya tetapi diapun ragu dengan itu.
Seminggu setelah itu, ada seorang profesor yang mengunjungi rumahku untuk mengetahui apa rahasia dari pupukku dan aku bilang itu hanya pupuk biasa. Tak lama aku menjelaskan, Louis mengajakku kerumah seorang pria perancis yang sedang keracunan makanan dan mencari anaknya. Di desaku tak ada yang bisa berbahasa Perancis, dan akupun membawa sebuah kamus Perancis untuk aku baca dalam perjalanan yang itu hanya sekitar 20 menit. Ya. Sesingkat itu.
Disana aku mendapatinya kesakitan dan terus berbahasa Perancis yang intinya dia mencari anaknya. Tanpa berpikir panjang aku coba untuk bertanya kepada dia, dimana terakhir anaknya bermain. Para warga desa yang mendengarkanku berbicara bahasa perancis dengan pria itu terheran-heran dan tak percaya bahwa aku mempelajarinya hanya dalam 20 menit.
Setelah setengah jam kami mencari, kami menemukan anak itu dan membawanya kedokter bersama ayahnya. Dan sekali lagi warga desa ingin tahu bagaimana aku mempelajarinya dan aku katakan aku hanya membaca.
Seminggu setelah itu, aku pergi kerumah Louis untuk menemaninya meretas tentunya. Tanpa kita sadari, ada pesan yang masuk. Pesan yang masuk tak chating tapi seperti sandi morse. Ya. Aku tahu sandi itu, sandi itu berbunti "BAWA BUNGA" dan aku menyuruh Louis menjawab dengan "BUNGA TULIP."
Seminggu setelah itu, aku mendapati banyak tentara AS yang mendatangi rumahku. Mereka mengajakku ke markas mereka dan berkata bahwa aku telah memecahkan kode rahasia negara AS, kode militer tingkat tinggi.
Di markas mereka, aku dipaksa untuk memecahkan semua kode-kode militer mereka. Ada sorang prajurit yang duduk didepanku dan bertanya bagaimana aku bisa memecahkan semua itu. Akupun tak menjawabnya dan malah memainkan pensil yang aku bisa menggerkannya tanpa aku sentuh. Dia bertanya kepadaku lagi bagaimana aku melakukan semua itu, akupun menjawab kalau kau ingin mereka bergerak, mintalah saja tanpa memerintahkan mereka. Diapun berteriak-teriak kepada pensil itu dan tetap tidak bisa menggerkannya sesentipun.
Setelah beberapa hari di markas mereka, akupun dibolehkan untuk pergi pulang kerumahku. Aku pulang dengan keadaan yang kurang sehat, setres mungkin. Sebelum aku tiba dirumah, aku mendapat telepon dari dokter umum diklinik desa. dia berkata bahwa aku mendapati penyakit kanker otak dan kanker itulah yang merangsang otakku menjadi seperti ini.
Dengan pikiran yang semakin kacau, aku pergi kerumah Dolores untuk menemuinya dan berharap dia dapat percaya kepadaku. Dolores sedang tidur di kamar tidur dan aku mengetuk jendelanya unruk meminta ijin untuk mengajaknya mengobrol.
Tanpa malu aku berkata kepadanya bahwa aku sangat mencintainya, aku sangat ingin menikah dengannya, aku menceritakan kalau aku terkena penyakit kanker otak yang mungkin umurku tinggal sebentar lagi. Semua itu aku ceritakan kepadanya dengan sepenuh hati, tetapi dia tak punya rasa yang sama kepadaku. Untuk terakhir kalinya aku meminta izin untuk tidur disampingnya dan aku berkata mungkin itu pertemuuan terakhir aku dengannya. Setelah aku tidur dengannya, hanya tidur biasa. Aku disurga setelah bangun dari tidur.
Hidupku sangat sederhana layaknya hidup orang biasa lain, yang aku lakukan hanya
bekerja, makan, mandi, mencuci piring dan memperhatikannya tentunya. Hidupku yang biasa ini mulai berubah ketika suatu hari, disaat aku sedang duduk santai di depan rumah sambil meminum sebotol bir, aku melihat seberkas cahaya putih dari langit yang gelap.
Seberkas cahaya itu bergerak bagaikan membelah langit malam yang gelap, tak lama kemudian, cahaya itu menghilang ditelan kejauhan. Aku pikir telah melihat ufo atau rudal percobaan tentara AS. Tapi pastinya aku tak tahu. Akupun melanjutkan untuk tidur karena takut akan terjadi apa-apa denganku.
Esok harinya seperti biasa aku pergi bekerja di bengkel temanku yang bernama Henry. Henry adalah orang yang sangat baik kepadaku, dia memberiku sebuah truk BMW warna merah yang sangat aku sukai tentunya. Seperti biasa banyak penduduk desa yang memeriksakan kesehatan kendaraan truk mereka dibengkel ini dan seperti biasa akupun mengerjakannya.
Seperti biasanya, Dolores, wanita yang memikat hatiku tentunya berbelanja kebutuhan hidupnya sehari-hari di mini market depan bengkelku bekerja ini. Mungkin dia terlalu risih kepadaku sehingga dia selalu menghindar bila aku terus melihatnya. Ya, itulah wanitaku.
Sudah jam 12 aku pergi ke bar untuk bertemu teman-temanku. Di sana aku menceritakan semua yang aku lihat tadi malam di langit malam, tetapi mereka tak melihat apapun dan tak percaya kepadaku. Dengan hati yang agak kecewa aku pulang kerumah.
Di rumah sudah ada Buddy, anjing yang menemaniku selama ini. Dia sangat suka mendengarkanku membacakan sebuah buku dongeng untuknya, dia selalu duduk didekat perapian di saat udara dingin menjelang bersamaku, hanya dia yang mungkin menjadi tempatku bercerita.
Malam itu pukul 8, seperti biasanya aku membacakan buku untuknya. Lembar demi lembar aku baca buku itu, kemudian di saat aku ingin membuka halaman yang lain, aku bisa membukanya tanpa aku menyentuhnya. Karena ketakutan, Buddy menggonggong kepadaku dan aku jelaskan bahwa mungkin ini hanya listrik statis biasa. Tanpa berpikir panjang aku pergi tidur.
Esok harinya, seperti biasa kembali aku pergi bekerja di bengkel. Saat aku sedang membetulkan sebuah truk, saat aku ingin mengambil obeng, mulai ada keanehan yang aku alami. Aku bisa mengambil obeng tanpa aku menyentuhnya.
Setelah itu aku pergi ke seorang dokter umum untuk memeriksakan apakah aku mendapat sebuah penyakit atau tidak. sekitar setengah jam aku diperiksa oleh dokter dan dokter berkata bahwa dia tak menemukan apapun yang salah dalam tubuhku.
Malam harinya seperti biasa aku duduk bersantai di depan rumah dengan meminum sebotol bir, tetapi malam itu, aku berasa aku punya gairah untuk membaca. Ya. Membaca apapun yang aku punya dirumah. Setelah kehabisan buku bacaan, aku mulai menelepon teman baikku dan meminjam buku darinya. Dia bernama Louis, dia adalah peretas paling hebat di desaku.
Malam itu, aku tak bisa tidur dan terus membaca buku. Aku melakukan eksperimen dengan sebuah panel surya yang diberi oleh Louis kepadaku. Aku menggunakannya untuk membantu tumbuhan berfotosintetis. Ya akupun juga meracik pupuk kompos yang aku dapat menumbuhkan tomat hingga sebesar kepala dan mentimun sebesar paha orang dewasa.
Pernah aku pergi kerumah Dolores untuk mendapatkan perhatiannya dengan membawa sebuah tomat sebesar kepala. mereka terkejut saat mendapatiku membawa itu. Setelah itu Dolores mengajakku mengobrol diluar berdua, membicarakan apa yang terjadi kepadaku akhir-akhir ini dan akupun ceritakan semuanya tetapi diapun ragu dengan itu.
Seminggu setelah itu, ada seorang profesor yang mengunjungi rumahku untuk mengetahui apa rahasia dari pupukku dan aku bilang itu hanya pupuk biasa. Tak lama aku menjelaskan, Louis mengajakku kerumah seorang pria perancis yang sedang keracunan makanan dan mencari anaknya. Di desaku tak ada yang bisa berbahasa Perancis, dan akupun membawa sebuah kamus Perancis untuk aku baca dalam perjalanan yang itu hanya sekitar 20 menit. Ya. Sesingkat itu.
Disana aku mendapatinya kesakitan dan terus berbahasa Perancis yang intinya dia mencari anaknya. Tanpa berpikir panjang aku coba untuk bertanya kepada dia, dimana terakhir anaknya bermain. Para warga desa yang mendengarkanku berbicara bahasa perancis dengan pria itu terheran-heran dan tak percaya bahwa aku mempelajarinya hanya dalam 20 menit.
Setelah setengah jam kami mencari, kami menemukan anak itu dan membawanya kedokter bersama ayahnya. Dan sekali lagi warga desa ingin tahu bagaimana aku mempelajarinya dan aku katakan aku hanya membaca.
Seminggu setelah itu, aku pergi kerumah Louis untuk menemaninya meretas tentunya. Tanpa kita sadari, ada pesan yang masuk. Pesan yang masuk tak chating tapi seperti sandi morse. Ya. Aku tahu sandi itu, sandi itu berbunti "BAWA BUNGA" dan aku menyuruh Louis menjawab dengan "BUNGA TULIP."
Seminggu setelah itu, aku mendapati banyak tentara AS yang mendatangi rumahku. Mereka mengajakku ke markas mereka dan berkata bahwa aku telah memecahkan kode rahasia negara AS, kode militer tingkat tinggi.
Di markas mereka, aku dipaksa untuk memecahkan semua kode-kode militer mereka. Ada sorang prajurit yang duduk didepanku dan bertanya bagaimana aku bisa memecahkan semua itu. Akupun tak menjawabnya dan malah memainkan pensil yang aku bisa menggerkannya tanpa aku sentuh. Dia bertanya kepadaku lagi bagaimana aku melakukan semua itu, akupun menjawab kalau kau ingin mereka bergerak, mintalah saja tanpa memerintahkan mereka. Diapun berteriak-teriak kepada pensil itu dan tetap tidak bisa menggerkannya sesentipun.
Setelah beberapa hari di markas mereka, akupun dibolehkan untuk pergi pulang kerumahku. Aku pulang dengan keadaan yang kurang sehat, setres mungkin. Sebelum aku tiba dirumah, aku mendapat telepon dari dokter umum diklinik desa. dia berkata bahwa aku mendapati penyakit kanker otak dan kanker itulah yang merangsang otakku menjadi seperti ini.
Dengan pikiran yang semakin kacau, aku pergi kerumah Dolores untuk menemuinya dan berharap dia dapat percaya kepadaku. Dolores sedang tidur di kamar tidur dan aku mengetuk jendelanya unruk meminta ijin untuk mengajaknya mengobrol.
Tanpa malu aku berkata kepadanya bahwa aku sangat mencintainya, aku sangat ingin menikah dengannya, aku menceritakan kalau aku terkena penyakit kanker otak yang mungkin umurku tinggal sebentar lagi. Semua itu aku ceritakan kepadanya dengan sepenuh hati, tetapi dia tak punya rasa yang sama kepadaku. Untuk terakhir kalinya aku meminta izin untuk tidur disampingnya dan aku berkata mungkin itu pertemuuan terakhir aku dengannya. Setelah aku tidur dengannya, hanya tidur biasa. Aku disurga setelah bangun dari tidur.
0 komentar:
Posting Komentar