Kamis, 05 April 2012

AKU SAYANG KAMU

Kita dulu pernah bersama, ya, bersama untuk waktu yang sangat lama. Kau tahu aku adalah lelaki yang cuek, dan kau tahu wlaupun aku seorang yang cuek tapi di hatiku aku sangat mencintaimu.

Akupun tahu bagaimana sifatmu, kau seorang wanita yang sangat perhatian kepadaku
dan bersifat keibuan tentunya. Kamu selalu bawel kepadaku karena aku selalu lupa makan. Aku seringkali marah kepadamu, aku minta maaf, sejujurnya aku begitu suka saat kau memperlakukanku seperti bayimu yang manja.

Dulu disaat bulan-bulan pertama kita menikah, seperti kata orang, bulan awal pernikahan memang bulan madu, bulan penuh kemanisan. Setiap pagi disaat aku belum terbangun dari tidurku, tanganmu membelai rambutku dan aku terbangun karena itu. Aku sangat suka dengan hal itu. Disaat malam sedang hujan deras, kita berdua duduk di sofa dan saling bercerita apa yang kita alami tiap hari.

Aku selalu ingin bercerita denganmu, aku selalu ingin bercerita apa yang terjadi, apa yang aku sukai dan siapa saja orang yang membuatku kesal setiap hari. Aku ingin melakukannya disaat kita sedang saling bercengkerama duduk di sofa berdua. Ya. Hanya berdua.

Kamu ingat waktu kita pertama kali bertemu? Dulu, aku seorang lelaki yang sangat pemalu, lelaki yang sangat pendiam, hingga akhirnya aku menemukanmu, ya, menemukanmu yang dapat merubah segalanya yang ada pada diriku.

Dulu disaat kita pertama kali bertemu, kita bertemu tanpa sengaja. Kau dan aku menyukai hal yang sama, ya, eat pray love, kau dulu bermimpi pergi Bali dan mengisi semua album fotomu tentang semua hal yang menarik disana. Disaat kau menunjungiku, kau bilang aku dapat membawamu kesana, dan kau membuatku berjanji untuk hal itu.

Hari demi hari kamu dan aku semakin dekat dan entah kenapa, aku mulai suka pada dirimu sayang. Kita bermain bersama, mengucap janji untuk saling bersama selamanya walaupun kita hanya berpacaran waktu itu. Ya aku sangat mencintaimu.

Pacaran kita mungkin memang cukup lama, ya hanya 10 tahun, itu sangat lama untuk ukuran kita. Kau dulu pernah menunjuk suatu rumah yang ingin kau beli, ya, kita mewujudkan itu. Kita membeli rumah itu.

Rumah kita walaupun kecil, sempit tetapi disana ada banyak kebahagiaan disaat kita mengecat tembok bersama, memperbaiki genteng bocor berdua dan mengecat kotak surat. Ya. Aku sangat rindu saat-saat itu.

Dulu sering kau mengajakku ke atas bukit yang dekat dengan rumah kita. Disana kau menunjukkanku betapa indahnya langit siang maupun malam. Di sana kita membayangkan melihat sosok bayi di awan, ya seorang bayi.

Mulai saat itu, kita melukis semua tembok dengan warna yang mungkin bayi kita akan sangat menyukainya. Kita banyak membeli kaos, tempat tidur nayi dan keperluan lainnya, ya, kita yakin akan mempunyai seorang bayi.

Mungkin setahun lebih kita berusaha untuk mewujudkannya, ya mewujudkan untuk memiliki seorang bayi tetapi belum pernah kita mendapat gejala apapun yang mulai didapat orang lain di saat mereka akan mempunyai seorang bayi. Kau dan aku akhirnya memutuskan untuk memeriksakan diri ke dokter kandungan dan hasilnya kita tak dapat memiliki seorang bayipun.

Setelah kejadian itu, kau selalu terdiam terpaku didalam mobil saat aku mengajakmu berlibur ke pantai. Kau selalu terduduk terdiam di atas sebuah kursi ditaman depan rumah. Kau tahu sayang? Di saat-saat itu aku sangat merindukan keceriaanmu, aku sangat merindukan perhatianmu dulu tetapi kau hanya duduk terdiam.

Tak samapai tega aku melihatmu begitu, aku menunjukan kembali kau album foto yang ingin kau isi disaat kita berada di Bali. Kau hanya tersenyum dan mungkin kau bertanya apa yang aku lakukan. Tetapi akhirnya kaupun mengerti dan dirimu yang dulu telah kembali lagi.

Kau mulai mengajakku kembali menggambar semua tembok rumah kita dengan indahnya panati Kuta Bali. Kau sangat bersamangat saat aku mengajakmu menabung untuk pergi kesana, untuk mewujudkan itu.

Tetapi beberapa bulan kemudian, kau mulaisakit, ya, sakit yang sangat serius. Kau terkena kanker otak dan kemungkinan untuk sembuh sangat sedikit. Kau tahu? Aku sangat menyesal belum bisa membahagiakanmu disaat-saat terakhirmu. Dan akhirnyan kaupun benar-benar pergi meninggalkanku untuk selamanya.

Sekarang, aku hanya sendiri, kesepian disini dan tak ada yang dapat menghiburku. Pernah dulu aku ingin pergi menyusulmu kesana, dan saat aku menemukan album fotomu, aku urungkan niatku. Aku sangat menyesal tak bisa membantumu mengisi album fotomu. Aku buka lembar demi lembar, dan aku menemukan semua telah terisi oleh foto-foto kita. Ya. Walupun itu bukan foto yang kau inginkan, tetapi kau terlihat begitu bahagia disaat menuliskan setiap catatan yang berada di setiap foto.

Kau tahu sayang? Aku begitu bangga pernah mempunyai sosok perempuan kuat sepertimu. Kita memang bukan keluarga yang sempurna, tetapi keluarga bahagia tak harus sempurna sayang. Aku sayang kamu dan selamanya akan begitu hingga aku mati.


0 komentar:

Posting Komentar