Sabtu, 31 Maret 2012

SANG GADIS HUJAN


Mereka menyebutnya Gadis Hujan. Karena ia seorang gadis dan ia menyukai hujan. Tak tahu siapa yang paling dulu menyebutnya seperti itu, namun wajahnya selalu ada saat hujan. Rambutnya yang hitam kelam bergelombang sudah basah terguyur hujan, mata almondnya melebar, hidungnya mancung, senyumnya selalu cemerlang. Dialah Sang Gadis Hujan.

Sudah hampir sebulan Jakarta diguyur hujan, Gadis Hujan pun selalu tampak setiap sore saat hujan datang. Setiap yang melihatnya pasti menggeleng-geleng tanda heran, namun mereka sudah terbiasa. Sudah banyak yang menyuruhnya pulang, namun Gadis Hujan memang belum mau pulang.

Gadis Hujan selalu tertawa ditengah hujan. Tubuh moleknya menari berputar-putar, tak jarang juga dia berlarian kecil diantara cipratan genangan air. Lalu dia berhenti. Terdiam sesaat seraya menatap awan, direntangkan tangannya lebar-lebar, dipejamkannya mata, dan mulai dia rasakan ketenangan yang mengobati segala penatnya.

Sedihnya, Gadis Hujan lagi-lagi teringat akan sahabatnya, tapi bukanlah hujan. Dia teringat sahabat yang mengajarinya tarian-tarian hujan kala itu.

“Hujan, sampaikan pesanku ini padanya. Aku masih merindukannya meski kamu tetap menemaniku..”

Hujan mulai mereda, berganti menjadi gerimis-gerimis kecil. Gadis Hujan berjalan terkulai, seolah tak punya daya. Lalu ia pulang..

***

Didepan jendela kamar aku terduduk ditemani segelas susu panas. Tiba-tiba ingatanku menerawang jauh ke hari itu. Hari pertama perjumpaanku dengannya..

Saat itu aku sedang menunggu mama menjemputku ketika ada seorang anak perempuan yang duduk disebelahku. Rambutnya dikepang dua, bibir mungilnya membiru, dan badan nya yang basah kuyup menggigil kedinginan. Lalu aku lepas jaket yang sedari tadi menghangatkanku dan aku berikan kepadanya. Dia tersenyum dan langsung mengenakan jaketku.

"Aku Lulu.." Ujarnya memperkenalkan diri. Dia menjulurkan tangan, terlihat jari-jarinya yang mengeriput karena kedinginan.

Saat membalas uluran tangannya, mobil mama datang. "Aku Lala... Udah ya, aku pulang dulu, kamu juga langsung pulang!". Aku lepaskan uluran tangannya dan segera berlari menembus hujan lalu masuk kedalam mobil mama.

Aku melihat dia tertawa serta melambaikan tangan nya dari dalam mobil.

***

"Ayo La.. Kejar aku kalo bisaaa!!"

"Ah kamu.. Udahan yuk, badan kamu uda menggigil tuh.." Ucapku khawatir melihat bibir dan jari-jarinya sudah membiru dan menggigil karena kedinginan. Tapi aku lihat dia malah semakin bersemangat berlarian kesana kemari.

"Ya udah kamu masuk aja. Aku masih mau maen.. Aku nggak apa-apa kok." Jawabnya sambil tertawa. Lalu dia lompat-lompat diantara hujan yang membasahi badannya, sedangkan aku memilih untuk berteduh diteras rumahku sambil melihat tingkah lakunya. Dia terlihat sangat menikmati tarian-tarian hujan yang dia ciptakan. Berputar, merentangkan tangan, lompat kesana kemari, namun tiba-tiba dia berhenti, lalu… Badan mungilnya segera roboh diatas tanah.

"Mamaaaaa!!! Lulu pingsan lagi!!!!" Langsung aku hampiri tubuhnya dan ku tepuk-tepuk pipinya, namun tak ada jawaban. Panik semakin menderaku.

Ya Allah, ada apa sebenarnya dengan Lulu, sahabatku?

***

Termenung sendiri aku didepan jendela melihat hujan yang mengguyur malam.. Dan aku mengingatnya lagi. Menantikan kehadirannya.

Ternyata Lulu mengidap kanker otak. Orang tua nya pun segera membawanya ke Singapore untuk menjalani segala macam terapi dan pengobatan. Dengan berat hati aku harus merelakan dia pergi, demi kesembuhannya. Toh dia berjanji bahwa dia pasti kembali..

Lalu tiba-tiba mama datang membuyarkan lamunanku.

"Mikirin Lulu lagi ya, sayang?"

"Iya, mah.. Lala udah kangen banget sama dia. Kapan dia pulang ya mah?"

"Begini, sayang.. Mama mau cerita sesuatu.."

Raut wajah mama berubah menjadi tak tenang. Terlihat jelas dimataku dan itu membuatku menjadi tak tenang pula.. "Kenapa, mah?"

"Sebenarnya seminggu yang lalu Ayah Lulu nelepon mama, beliau bilang kalo mereka akan segera pulang.. Karena keadaan Lulu udah membaik dan tinggal melanjutkan pengobatan di Indonesia. Beliau juga berpesan agar mama nggak ngasih tahu kamu karena Lulu ingin menjadikan kepulangannya sebagai kejutan.."

Mukaku menjadi sangat berseri. Lulu akan pulang? Apa aku tidak salah dengar??

Mama kembali melanjutkan ucapannya. "Tapi, sayang...."

"Tapi?" Uh, mama membuatku penasaran!

Lalu mama menyodorkanku sebuah koran edisi tadi pagi. Aku semakin bingung, kok mama malah meminta aku untuk baca koran, sih??

"Coba kamu baca headline nya.." Ucap mama seraya menunjuk sebuah berita di halaman utama nya. "Kamu harus sabar ya, sayang.."

PESAWAT ASIA AIRLINES TERBAKAR SAAT SEDANG TAKE OFF
Dipastikan seluruh penumpangnya tewas.


Pesawat milik maskapai penerbangan asing itu terbakar saat hendak melakukan penerbangan dari Singapore menuju Jakarta. Beritanya menjadi headline dihampir semua surat kabar sejak tadi pagi karena ada WNI yang ikut jadi korban. Aku benar-benar tidak percaya saat membaca nama-nama WNI yang menjadi korban tersebut, terutama salah satu nama yang sudah diberi tanda oleh mama:

LULU ASTRIA PUTRI

Lulu! Koran yang aku pegang jatuh seketika. Tak dapat lagi aku berucap, hanya tetes airmata yang jatuh membasahi pipi. Hatiku terasa sesak, sakit sekali. Mengapa kamu tak menepati janjimu, Lu?!

Meski malam semakin pekat, dan hujan sudah mereda, airmataku tak dapat terhenti. Mama terus memeluk dan membelai punggungku, mencoba menenangkanku..

***

Sore ini lagi-lagi hujan turun dengan derasnya dan lagi-lagi Sang Gadis Hujan kembali terlihat menari-menari diantara derasnya hujan. Jika ada yang bertanya mengapa Sang Gadis begitu menyukai hujan, dia akan tersenyum dan selalu menjawab dengan jawaban yang sama.

Sang Gadis tersenyum, "Karena hujan adalah anugerah dari-Nya yang tak akan meninggalkanku.. Karena hanya hujan yang aku miliki.."

Lalu mereka kembali bertanya, sejak kapan Sang Gadis mulai menyukai hujan, dia pun akan tersenyum dan menjawab, "Sejak dia meninggalkanku dan hanyalah hujan yang aku miliki..."

Sang Gadis Hujan akan selalu tersenyum, terlebih saat hujan membasahinya... Karena bagaimanapun, dia adalah Sang Gadis Hujan.

***
Oleh : Dianty Khairunissa

0 komentar:

Posting Komentar