Sabtu, 31 Maret 2012

AKHIR KISAH


Ketika dunia terang, alangkah semakin indah jikalau ada dia disisi. Kala langit mendung, begitu tenangnya jika ada dia menemani. Saat hujan membasuh semua asa, begitu senangnya jika ada dia yang ikut merasakan. Dia. Dia. Dan dia.
Ya, itulah kira-kira sedikit tentang diriku yang begitu merindukan
kehadirannya. Aku memang seorang yang sangat terobsesi untuk menemukannya. Namun, sekian lama pengembaraanku untuk mengetahui keberadaannya, tak jua ku kutemukan. Hingga kini, saat ku telah hampir putus asa dan mencoba melupakan semua obsesiku tentangnya, secercah cahaya menuntunku untuk menghampirinya.
***
“Lena, kamu jangan pergi… Kalau kamu pergi, nanti Egi main hujan sama siapa? Lena jangan pergi! Lena!!!” Tangisannya terdengar begitu menyayat kalbuku yang terdalam.
Bayangnya semakin menjauh ditengah rintik hujan yang seolah ingin memisahkanku dengannya dan aku tak sanggup untuk menggapainya lagi walau aku terus mencoba. Bahkan aku tak sanggup utuk sekadar meyakinkannya bahwa aku akan kembali. Ya, aku pasti kembali.

Aku membuka mata perlahan dan mendapati langit-langit kamarku yang berwarna putih. Di dahiku peluh sudah bercucuran. Napasku tersengal. Aku bermimpi buruk lagi. Mimpi buruk yang sama selama hampir setengah tahun ini.
Aku menoleh untuk melihat jam, tapi kemudian mataku menangkap sebuah pigura berisikan foto seorang bocah laki-laki yang sedang merangkul seorang gadis kecil disampingnya. Aku menggapai pigura itu, lalu memeluknya. Segera saja tercipta suatu anak sungai yang mengalir deras di kedua sudut mata ini, teringat seseorang yang telah tujuh tahun ini tak ku temui.
Aku ingat, sekitar lima bulan lalu, saat aku sedang merapikan isi rak buku yang mulai mengusik pandangan, aku menemukan sebuah address book berisikan nomor telepon teman-teman lama. Betapa kagetnya saat aku menemukan satu nama yang senantiasa ku cari selama ini. Egi Wiana Prasetya.
Tanpa pikir panjang ku sambar telepon genggam dan ku tekan nomor yang tertera disana. Namun hanya suara operator seluler yang ku dapati. Dengan perasaan kecewa ku coba untuk menelepon nomor telepon lainnya, dan sebuah suara berat menyambutku. Ternyata ini adalah nomor telepon ayahnya. Setelah sedikit berbasa-basi aku utarakan maksudku yang sebenarnya. Dan aku tertegun mendengar cerita yang disampaikan oleh pria berusia sekitar empat puluh tujuh tahun itu...
Orangtua Egi bercerai selang beberapa bulan kepergianku. Egi memilih untuk tinggal bersama bundanya dan sejak saat itu, ayahnya tak tau dimana mereka tinggal. Sekalipun beliau telah berusaha mencari keberadaan mereka. Aku membayangkan bagaimana perasaan Egi saat itu. Hingga rasa bersalah itu semakin memojokkanku. Namun setitik harapan untuk memperbaiki semuanya muncul. Beliau memberikanku nomor telepon genggam Egi, berharap semoga Egi dan bundanya mau memberitahu keberadaan mereka kepadaku. Setelah mengucap banyak terimakasih, aku mengakhiri pembicaraanku dengan pria yang dulu ku kenal sangat memperhatikan keluarga kecilnya itu.
Saat aku merasa siap untuk ‘menyapanya’ (ku gunakan tanda kutip karena aku tidak menyapanya secara langsung), pagi itu ku coba tuk menghubunginya, namun saat dia tahu bahwa yang menghubunginya itu aku, tak satupun telepon maupun SMS dari ku ditanggapinya. Seperti ada gemuruh serta gejolak di hati ini yang tak ku mengerti artinya, atau aku hanya pura-pura tak mengerti? Aku tak tahu. Yang aku tahu aku sangat merindukannya. Dan apa yang aku tahu itu semakin lama membuatku semakin mengutuk kepergianku saat itu. Bahkan hingga kini..
***

Malam ini, sebelum tidur, seperti biasa aku membuka email untuk mengecek inbox. Ternyata ada satu email yang membuatku kaget. Semakin kaget karena email tersebut dari Egi. Aku semakin bertanya-tanya, gugup dan semakin takut kehilangan dia. Apa yang dia katakan padaku?? Perlahan aku mengklik email itu.

From: egi_git@gmail.com
Subject: Untuk Lena
Date: Saturday, 06 Dec 2008 21:53:52 +0800 (SGT)
To: alenna_the_queen@hotmail.com

Aku sudah tahu semua yang kamu lakukan untuk menemukan aku. Kalau aku jadi kamu mungkin aku akan melakukan hal yang sama, aku akan menepati janjiku untuk kembali ke orang yang aku sayang. Sama seperti yang udah kamu lakukan. Tapi sepertinya kamu terlambat menemukanku atau terlambat mencariku? Entahlah.

Sejak kamu pergi, aku selalu nunggu kamu. Sampai akhirnya ayah dan bunda bercerai dan aku memilih tinggal bersama bunda.

Lena, sahabatku… Mungkin garis takdir kita memang hanya sebatas ini, tidak lebih. Kalaupun bisa, itu semua kehendak Allah semata. Kenapa aku bilang begini? Karena aku enggak mau kamu jadi lemah karena aku.. Kalaupun kita sudah enggak bisa jadi satu seperti dulu, maafin aku.. Maaf aku nggak bisa membalas sayangmu dengan bobot yang sama.. Maaf karena aku enggak bisa pegang erat janji untuk setia menganggap hujan sebagai pengganti kamu. Aku minta maaf karena udah menyakiti kamu baik dalam keadaan sadar atau nggak.

Mulai sekarang sebaiknya kamu harus bisa sedikit demi sedikit melupakan aku. Kamu harus cari pengganti yang lebih baik dari aku.. Emang siapa sih aku?? Aku cuma cowok pengecut yang hanya bisa cengengesan gak jelas, yang enggak bisa dibanggakan oleh orang disekitarku. Jadi kmu harus cari orang yang tulus ikhlas menyayangi kamu. Mungkin dia lebih baik perangainya dari pada aku.. Be careful, thanks buat semuanya, & bye…


Duerr!!! Hatiku terkaget-kaget membaca ungkapan hatinya. Aku sama sekali tidak menyangka dia akan berucap seperti itu. Aku klik reply dan ku coba membalasnya dengan kata-kata terpilih agar aku tidak menyakiti hatinya lagi. Mungkin itu juga yang dilakukan Egi saat dia menulis email itu padaku. Aku mulai mengetik dalam tangisku yang tak terbendung.

From: alenna_the_queen@hotmail.com
Subject: Re: Untuk Egi
Date: Sun, 07 Dec 2008 19:02:16 +0700
To: egi_git@gmail.com

Assalamualaikum.
Makasih ya buat semuanya.. Singkat kata, menurut kamu kita gak bisa kembali kayak dulu lagi, kan? Kamu tahu, Gi? Lambat laun, seiring bertambahnya usia aku semakin mengerti kalau aku nggak bisa miliki kamu kayak dulu lag.. Aku mulai sadar kalau sebenernya aku egois, aku cuma mau kamu disampingku!

Egi kecilku, kamu tahu? Hujan sering menemaniku mengingat semua tentang kamu, aku, dan kita. Hujan seakan ikut menangisi kesedihanku… Hingga suatu ketika aku tersentak ketika aku menemukan barisan kata yang logis, bahwa... Love is trying to let him go… Aku berpikir lama sekali untuk menemukan makna barisan kata tersebut, akhirnya aku percaya, aku yakin bahwa... Aku harus membebaskanmu! Ya, itulah yang harus aku lakukan... Aku harap kamu enggak menghilangkan aku dari daftar nama-nama yang ada di hatimu. Meskipun blacklist, aku nggak peduli! Aku cuma pengen kamu masih inget aku sampai nanti suatu hari, kita ketemu dan aku enggak mengenali kamu lagi atau sampai kita bisa kembali seperti dulu lagi..

Pesan aku, mulai sekarang jangan berpikir bahwa kamu  adalah seorang yang enggak berguna dan enggak ada yang bangga sama kamu… Kamu salah besar. Semua yang ada di dekat kamu pasti bangga mengenalmu, termasuk aku… Juga satu hal, ayah kamu kangen sama kamu...


Send….. Nafas lega aku hembuskan setelah aku membalas e-mailnya. Aku senang telah mengetahui sekilas kabarnya dan aku senang telah mencoba memparbaiki kesalahanku dengan melepaskannya hingga aku berharap dia bisa lebih bahagia.
Aku tutup netbook lalu aku padamkan lampu, hingga yang tersisa hanyalah sedikit cahaya Sang Dewi Malam yang menerobos masuk melalui celah-celah jendela kamarku. Lalu aku tenggelamkan raga ini dalam kasur biru yang begitu nyaman. Aku pun terlelap seketika dalam buaian mimpi, mimpi indah yang membayar semua resah ku selama ini…
***

Aku tadahkan tanganku keatas, mencoba mengumpulkan butiran-butiran kristal itu, tiba-tiba ku rasakan seseorang mendekapku dari belakang, begitu erat seakan tak ingin dilepasnya. “Terimakasih, Lena... Senang berbagi kisah denganmu…”  bisiknya lembut.
Perlahan hangat itu sirna, aku balikkan badan dan aku lihat lambaian serta senyuman tanda perpisahan darinya. Lamat-lamat, bayangannya menjauh, meninggalkanku di tengah derasnya hujan serta bulir air mata yang tak kunjung reda. Aku bahagia…
                                                                                ***
Oleh : Dianty khairunissa

0 komentar:

Posting Komentar